Senin, 09 Mei 2016

Asal Usul Setan Atau Iblis Ditinjau Dalam Perjanjian Lama

Nama              :           Andi Satria Putranta Barus
Tingkat/Jur    :           IV-C/Teologia
M. Kuliah       :           Teologi Perjanjian Lama 2
Dosen              :           Pdt. Dr. Jontor Situmorang
Asal Usul Setan Atau Iblis Ditinjau Dalam Perjanjian Lama
I.                   Pendahuluan
Setan atau yang sering kita sebut sebagai Iblis bukanlah topik yang baru untuk dibahas. Sosok yang satu ini sangat familiar terkhusus dalam dunia kekristenan. Siapa yang tidak mengenal setan? Sosok yang selalu memerankan peran antagonis dalam alkitab dan selalu berusaha membuat manusia jauh dari Allah. Siapakah dia sebenarnya? Darimana asal usulnya? Pertanyaan ini akan dibahas dalam paper ini menurut perspektif perjanjian lama. Semoga sajian ini dapat menambah wawasan kita semua.
II.                Pembahasan
2.1  Arti Kata Setan Atau Iblis Dalam Perjanjian Lama
Berdasarkan acuan perjanjian lama, secara etimologis kata setan berasal dari bahasa ibrani שׇטׇן (syatan) yang berarti “lawan”,“seteru”,”penentang” dan “penuduh”. Kata ini muncul sebanyak 24 kali dalam perjanjian lama. Kata ini merupakan kata serapan dari bahasa Aram. Kata שׇטׇן (syatan) ini secara etimologikal merupakan perkembangan selanjutnya dari bahasa sekitar Israel dengan beberapa acuan makna[1] dan akhirnya mengambil bentuk kata dengan prefiks yang bisa kita kenal saat ini. Didalam beberapa tradisi timur tengah kuno khususnya bangsa Akkadian, secara terminologi kata ini memiliki dua dimensi yang lazim dipakai saat itu yakni dimensi politis dan dimensi keilahian. Lazimnya, para penentang pemerintahan atau para pemberontak kerajaan saat itu digelari sebagai “satan” (Akk: satanu). Pada dimensi keliahian, “satan” juga mengambil peranan penting pada pertempuran dewa-dewa dan pemberontakan dewa-dewa terhadap dewa utama. Namun, beberapa sarjana alkitab mengungkapkan bahwa penjelasan sosok ini sangat terbatas pada perjanjian lama karena tidak dipaparkan secara eksplisit pada naskah alkitab.[2]
Dalam perjanjian lama, kata ini menunjukkan subjek antagonis ataupun watak dan karakter yang antagonis. Namun akhirnya makna etimologis ini dipersonifikasi oleh para penafsir sebagai subjek atau personal.[3] Dalam PL istilah "setan" atau "penuduh" dapat berhubungan dengan tiga kelompok terpisah:[4]
1. penuduh manusia (lih. I Sam. 29:4; II Sam 19:22; 1 Raj. 11:14,20,29; Maz. 109:6)
2. malaikat penuduh (lih. Bil. 22:22-23; Ayub 1-2; Zak. 3:1)
3. iblis penuduh (lih. 1 Taw. 21:1; 1 Raj. 22:21; Zak. 13:2
Didalam Bridgeway Bible Dictionary, setan diartikan sebagai personal yang selalu aktif melawan Allah dimana dalam perkembangan selanjutnya dipahami sebagai pemimpin orang-orang yang mencintai kejahatan.[5]
Menurut Charles Buck Theological Dictionary, setan digambarkan sebagai penentang dan musuh yang secara umum ditujukan kepada pemimpin para malaikat yang jatuh dari surga yang notabenenya adalah sekutunya.[6]
Nama setan juga diadopsi secara literal (Ayub 1:6) dalam beberapa versi alkitab, seperti Authorized Version, Contemporary English Version, Darby Version, English Standard Version, Holman Christian Standard Bible, dan New King James Version. Dalam perjanjian lama bahasa Yunani (septuaginta), setan tidak diadopsi secara literal melainkan diganti dengan kata διαβολος yang juga memiliki makna yang serupa.

2.2  Asal Usul Setan Atau Iblis Dalam Kajian Perjanjian Lama
Alkitab tidak memberikan dan menjelaskan mengenai kemunculan setan beserta hakikatnya secara eksplisit. Hal ini menimbulkan pertanyaan dan perdebatan yang hangat mengenai setan secara esensial. Berbeda dengan berbegai doktrin atau teologi Kristen lainnya, setan tidak memiliki dasar yang kuat secara biblis. Kemunculannya yang sedikit pada Perjanjian lama terutama kisah ayub dan daud seolah-olah mereka adalah tokoh yang tidak penting Pada umumnya, orang Kristen memahami iblis berasal dari malaikat yang memberontak dan jatuh ke bumi. Banyak juga opini yang mengatakan bahwa awalnya mereka pemimpin biduan di surga yang akibat kesombongannya dibuang dan dijatuhkan dari tahtanya. Beberapa buku tafsir juga tak luput dari cerita spekulatif ini, dimana kisah ini turut mewarnai ayat-ayat kontroversial yang diyakini sebagai asal usul setan yakni Yesaya 14:12-15, Yeh 28:11-19 dan Kejadian 6:1-4. Dan sosok itu sering kali dinamakan dengan “Lucifer”.[7] Siapakah dia? Apakah dia benar-benar ada? atau hanya sebuah legenda yang mempengaruhi para penulis dan penafsir alkitab?
Untuk memahami lebih jauh mengenai permasalahan ini, penyaji akan mencoba untuk memaparkan terlebih dahulu mengenai Lucifer, sejarah dan arti katanya. Istilah Lucifer ini memasuki ruang lingkup religi ketika istilah ini diidentikkan dengan Yesaya 14:12-15. Tokoh yang berperan mengadopsi kata itu adalah St. Jerome (Hieronimus) pada abad ke-4M saat ia menerjemahkan perjanjian lama kedalam bahasa latin (Vulgata). Istilah Ibrani dalam Yesaya 14:12 בֶּן־שָׁחַר הֵילֵל (heylel ben shakar) diterjemahkan dalam Septuaginta dengan istilah ο εωσφορος   (heosphorus) yang dalam bahasa Yunani merujuk pada Venus[8] sebagai bintang fajar dan dalam Latin Vulgata dipakai istilah ‘lucifer’. Istilah ‘Lucifer’ berasal dari bahasa Latin, lux, artinya ‘sinar’ dan ferre, yang berarti ‘membawa’. Menurut Oxford English Dictionary (OED) kata ‘Lucifer ‘ memiliki sejarah yang menarik. Ada 2 arti penggunaan kata Lucifer ini yang berasal dari periode Old English atau periode Anglo-Saxon (sekitar 1000 M) hingga periode Middle English. Dan arti ini terus dipergunakan hingga abad modern ini. Lucifer adalah istilah Latin yang merujuk pada planet Venus, sang bintang fajar/pagi. Tetapi astronomi orang Romawi menyebut bintang pagi/fajar dengan istilah Venus. Itulah sebabnya istilah ‘Lucifer’ seringkali diidentikkan dengan bintang fajar/pagi. Salah satu referensi paling jelas sehubungan dengan pengidentikan Lucifer sebagai bintang pagi/fajar ini ditemukan dalam karya Pliny, ‘Natural History’ yang ditulis sekitar tahun 50 M:
Beneath the Sunne a goodly faire starre there is, called Venus, which goeth her
compasse, wandering this way and that, by turnes: and by the very names that it  hath,
testifieth her emulation of Sunne and Moone. For all the while that shee preventeth
the morning, and riseth Orientall before, she taketh the name of Lucifer as a second sun hastening the day......
Namun pengidentifikasian Lucifer dengan setan menjadi topik pembahasan utama, terkait masalah asal usulnya. Kebanyakan penafsir[9] sepakat bahwa Yesaya 14:12-15 dan Yehezkiel 28:11-19 merupakan ayat yang menggambarkan asal usul setan. Origenes menjadi orang yang pertama mensejajarkan setan dan Lucifer yang memaknainya sebagai pembawa terang. Padahal kekristenan purba, saat itu meyakini bahwa pembawa terang/bintang timur adalah Yesus Kristus.[10] Menurut Browning, kecenderungan para bapa-bapa gereja menghubungkan bintang terang ini dengan Lucifer, sang penghulu setan, ini diakibatkan oleh ucapan Yesus pada kitab Lukas 10:18 yang diyakini diambil dari Yes 14:12.[11] Dan di dalam buku yang berjudul Fallen Angel and Origins of Evil, menjelaskan sebuah fakta yang menarik dimana pemimpin-pemimpin gereja awal sempat dipengaruhi oleh salah satu tulisan yudaisme yakni kitab Henokh[12] yang akhirnya mewarnai teologi Kristen saat itu.[13] Akhirnya, muncullah kisah Lucifer yang beredar hingga saat ini. Kisah itu lazim disebut sebagai “The Fallen Angel” atau malaikat yang jatuh.
Ada 3 ayat parallel sering dihubungkan untuk menjelaskan asal usul setan/Lucifer yakni Kejadian 6:1-4, Yesaya 14:12-15 dan Yehezkiel 28:11-19. Menurut perjanjian lama setan sama sekali tidak pernah dihubungkan dengan malaikat-malaikat. Dalam bahasa asli Alkitab PL, yaitu bahasa Ibrani, tidak pernah muncul kata Lucifer. Apalagi sebenarnya Yesaya 14:12 tidak sedang berbicara tentang kejatuhan malaikat, tetapi kejatuhan seorang raja Babel yang selama hidupnya telah menganiaya bangsa Israel. Bagian ini sama sekali tidak menyebutkan keterlibatan setan, baik dalam bentuk nama maupun referensinya. Dari konteksnya, Yesaya pasal 13-14 berhubungan dengan Babel (13:1: ucapan Ilahi terhadap Babel yang dinyatakan kepada Yesaya bin Amos) dan khususnya pasal 13 secara keseluruhan berbicara tentang penghukuman terhadap bangsa Babel. Pasal 14:1-3 merupakan kata-kata penghiburan terhadap bangsa Israel; selanjutnya ayat 4 merupakan seruan Tuhan agar bangsa Israel menyanyikan lagu ejekan terhadap bangsa Babel. Bumi dan pohon-pohon bersukacita (ay. 7-8) karena raja Babel yang sombong itu telah mati (9-20).
Pengidentikan setan dengan Lucifer setidaknya memiliki keterkaitan dengan kemunculan istilah tersebut dalam terjemahan Latin Vulgata milik Jerome. Dalam sejarah diketahui bahwa terjemahan Latin Vulgata merupakan versi Alkitab resmi gereja Barat hampir selama 1 abad (sekitar 500-1500an M). Selama masa Reformasi pula, ketika orang-orang berusaha menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa mereka sendiri, setidaknya Vulgata menjadi sebuah referensi utama saat itu. Begitu pula yang terjadi pada terjemahan-terjemahan Akitab berbahasa Inggris. Menurut Oxford English Dictionary, kemunculan istilah ‘Lucifer’ di semua versi Alkitab berbahasa Inggris, dari masa Wycliffe hingga KJV, merujuk pada sebuah nama diri (proper name).
Jerome mempergunakan istilah Latin lucifer, yang sebenarnya berarti Venus (untuk merujuk pada bintang pagi/fajar) untuk menerjemahkan kata Yunani ew` sfo,roj (heosphorus) ‘dawn-bearer’. Kata Ibrani untuk teks ini adalah heilel ben schahar yang berarti ‘helel anak shahar’. Helel adalah seorang dewa orang Babel atau Kanaan yang merupakan anak dari dewa Shahar.
2.3  Perkembangan Ide Mengenai Malaikat Yang Jatuh
Alkitab tidak memberi gambaran secara jelas tentang kejatuhan para malaikat dan alasan-alasannya. Salah satu tulisan di luar Alkitab yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan konsep ini adalah Paradise Lost, karangan John Milton yang terbit tahun 1667. Karya ini disajikan dalam bentuk puisi kepahlawan. Karya ini terdiri dari 12 kitab. Karya ini disajikan dalam bentuk puisi kepahlawan. Karya ini terdiri dari 12 kitab. Berikut akan digambarkan ringkasan isi masing-masing kitab sehingga kita dapat mengetahui pengaruhnya bagi kekristenan hingga sekarang ini: [14]
Kitab 1
Bagian pembuka berisi renungan tentang sorga, kejatuhan manusia dan tujuan penulis: membenarkan cara-cara yang dilakukan Allah terhadap manusia. Setan, Beelzebul dan malaikat-malaikat yang memberontak digambarkan tinggal di danau api (asal usul neraka sebagai tempat tinggal setan) dan menyerukan “Better to reign in hell than serve in heaven.”
Kitab 2
Setan dan malaikat-malaikat pemberontak berdebat apakah mereka akan mengadakan perlawanan terhadap sorga. Beelzebul mengatakan bahwa sebuah dunia baru sedang dibangun, yang kelak akan menjadi tempat tinggal manusia. Setan memutuskan untuk mengunjungi dunia baru ini dengan melewati pintu gerbang neraka. Setan digambarkan menelurkan ide tentang dosa melalui ledakan api dari dahinya.
Kitab 3
Allah mengamati perjalanan setan dan menubuatkan kejatuhan manusia yang dilakukan setan. Namun ditekankan bahwa kejatuhan terjadi karena kehendak bebas manusia sendiri dan bukan merupakan tanggung jawab Allah. Anak Allah menawarkan Dirinya sebagai tebusan bagi ketidaktaatan manusia. Setan muncul di bumi, menyamar sebagai malaikat.
Kitab 4
Setan berkeliling di taman Eden. Di sana dia melihat Adan dan Hawa sedang berbicara tentang pohon pengetahuan yang terlarang. Setan mencoba mengamati-amati dan selanjutnya dia berusaha menggoda Hawa ketika sedang tidur. Tetapi apa yang dilakukan setan diketahui oleh malaikat Gabriel yang selanjutnya mengusirnya dari taman Eden.
Kitab 5
Hawa terbangun dan menceritakan mimpinya pada Adam. Allah mengutus Rafael untuk memperingatkan dan menghibur Adam. Mereka berdiskusi tentang kehendak bebas dan predestinasi. Rafael juga menceritakan tentang bagaimana setan membujuk para malaikat untuk melawan Allah.
Kitab 6
Selanjutnya Rafael menggambarkan perang yang terjadi di sorga dan bagaimana Anak Allah mencampakkan setan dan pengikut-pengikutnya ke neraka.
Kitab 7
Rafael menjelaskan bahwa setelah itu Allah memutuskan untuk menciptakan dunia yang lain (bumi) dan dia memperingatkan Adam untuk tidak makan buah pohon pengetahuan.
Kitab 8
Adam menanyakan pada Rafael tentang bintang-bintang dan susunan sorga. Rafael memperingatkan Adam karena sorga adalah sesuatu yang terlalu tinggi untuknya. Rafael menyuruh Adam bersikap bijaksana dan bersabar.
Kitab 9
Setan kembali ke Eden dan masuk ke dalam tubuh ular yang sedang tidur. Ular itu berusaha mencobai Hawa untuk makan dari buah pohon pengetahuan. Hawa memakannya dan mengambilkan beberapa buah lagi untuk Adam. Adam tersadar bahwa Hawa telah ditipu namun Adam terus makan buah itu. Dalam keadaannya yang tidak bersalah, mereka menutupi ketelanjangan mereka. Mereka terduduk menangis, seperti hujan air mata mereka.
Kitab 10
Allah mengirim Anak-Nya ke Eden untuk menghukum Adam dan Hawa. Setan kembali ke neraka dengan kemenangan besar.
Kitab 11
Anak Allah memohon pengampunan dari Allah untuk kepentingan Adam dan Hawa. Allah menyuruh mereka keluar dari Eden. Malaikat Mikael datang untuk menghukum. Mikael membentangkan sejarah dunia pada masa mendatang kepada Adam.
Kitab 12
Sebelum mengusir Adam dan Hawa, Mikael bercerita tentang Mesias yang akan datang. Sorga telah berlalu bagi mereka. Puisi ini diakhiri dengan kata-kata “Dunia terbentang di hadapan mereka. Mereka bergandengan tangan menjelajahi dunia. Dari eden, mereka menjalani dunia mereka yang sunyi.”
Dari karya inilah akhirnya cerita fenomenal tentang Lucifer beredar bahkan hingga saat ini. Disini penyaji akan mengangkat sebuah contoh cerita yang menggambarkan kejatuhan malaikat yang beredar di zaman post-modern ini:
Lucifer dalam Alkitab adalah malaikat pemimpin puji-pujian di sorga. Ia diciptakan oleh Allah. Ia terkenal karena keindahannya dan kemegahannya. Hal ini membuatnya sombong dan ingin dipuja, menjadi sama seperti Allah. Karena pemberontakannya ini, ia dilemparkan oleh Allah ke bumi. Ia berhasil merekrut sepertiga dari berlaksalaksa (laksa: puluhan ribu) malaikat di surga bersamanya. Sejak ia jatuh dalam dosa,ia menjadi tuan dari kegelapan, kekacauan, ketidakteraturan, kerusakan, dsb. Lucifer dalam kitab Kejadian menggunakan seekor ular untuk menjatuhkan Adam dan Hawa ke dalam dosa. Ia adalah pendusta dan bapa (sumber) dari segala dusta dan kebohongan (Yoh 8:44). Kedatangan Yesus ke dunia telah menebus manusia dari dosa dan mengalahkan Lucifer. Ia dilucuti, dan sekarang mengandalkan tipu muslihat dan kelicikannya untuk membinasakan manusia. Pada akhirnya nasibnya akan sangat mengerikan: dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang dan disiksa selamalamanya (Wahyu 20:10).
Penyaji berpendapat, berdasarkan biografi Origenes dan beberapa karyanya, ia terlihat sebagai tokoh penafsir yang menganut metode Allegoris[15] sehingga kitab-kitab apokaliptis yang dia tafsir mengakibatkan simbol-simbol dan tanda-tanda dalam kitab-kitab itu direlevansikan dengan suatu tokoh atau keadaan tertentu sesuai dengan arah dan ide si penafsir. Cerita Lucifer semakin kuat dalam gereja setelah St. Jerome menggunakan kata Lucifer dalam Alkitab resmi Gereja Khatolik Roma Vulgata.

2.3.1                    Kritik Historis Terhadap Yesaya 14:12-15 dan Yehezkiel 28:11-19
Kita harus menganggap serius konteks historis dan pernyataan spesifik literari Yesaya dan menegaskan bahwa ini mengacu kepada raja Babel (atau raja-raja Asyur setelah Ashurbanipal). Dari ay. 12 jelas merujuk padaseorang raja duniawi Asyur atau Babel (lih. ay. 16-17). Gambaran dari puisi (ay. 4-21) diambil dari mitologi Kanaan (khususnya ay. 13-14), yang dikenal dari Ras Shamra Tablet berasal dari abad ke lima belas ditemukan di kota Ugarit.Istilah "bintang pagi" (Helal) dan "bintang fajar" (Shabar) keduanya nama dewa dalam mitologi Kanaan, seperti gunung para dewa di utara (Gunung Zaphon, lih. Maz. 48:2). Juga sebutan untuk tuhan, "Yang Maha Tinggi," adalah umum dalam puisi Ugarit dan mengacu pada Ba'al Shamim ("Tuhan langit"). Dalam puisi Kanaan mytho-Helal, dewa yang lebih rendah, mencoba untuk merebut kekuasaan, namun dikalahkan. Ini ada di balik perumpamaan Yesaya tentang penguasa timur yang sombong.[16]
Kemudian sumber kedua yakni Yehezkiel 28:11-19 yang mirip dengan Yesaya 14:12-15 yakni kejatuhan Raja Tirus. Ini merupakan bagian dari nubuatan mengenai kejatuhan Tirus. Pada konteks itu, raja Tirus sering menyebut dirinya sebagai dewa atau manusia Tuhan dan nama raja itu adalah Ittoba’al[17] III yang memimpin Tirus tahun 590-575 SM. Ia sering meninggikan dirinya dan menyamakan dirinya dengan Tuhan.[18]

2.3.2                    Fakta Historis Tentang “Malaikat Yang Jatuh” (Lucifer)
Legenda tentang malaikat yang jatuh (Lucifer) yang dihubung-hubungkan dengan cerita alkitab merupakan sebuah kisah yang cukup tua dan bahkan sudah ada sebelum kemunculan kekristenan. Cerita ini muncul dalam naskah-naskah pseudopigrapha dan apokrifa yang ditulis sekitar 200-150 SM.  Literatur-literatur tersebut kebanyakan bersifat apokaliptis, yang menggambarkan perubahan-perubahan besar yang terjadi di dunia serta tentang akhir jaman. Melalui literatur-literatur itulah kita dapat melihat perkembangan gagasan atau ide tentang roh jahat. Menurut literatur-literatur tersebut, sebenarnya kejahatan bukan merupakan esensi dan asal usul dari setan. Salah satu literatur terkenal yang membahas tentang hal ini adalah kitab Henokh. Kitab ini menceritakan antara lain tentang ‘kecelakaan’ yang terjadi dalam kelompok para malaikat. Beberapa kelompok malaikat memberontak pada Allah dan akhirnya mereka dicampakkan dari sorga. Sebuah tulisan orang Yahudi, The Life of Adam and Eve (Vita Adami et Evae) yang diperkirakan berasal dari 200 SM-200 M, memberi dukungan terhadap kisah ini. Menurut tulisan ini, setan bercerita kepada Adam dan Hawa bahwa kejatuhannya dari sorga merupakan akibat penolakannya menyembah Adam sebagai gambaran Allah.[19] Informasi dari Alfred Edersheim juga menginformasikan bahwa bahwa Yudaisme rabinis terlalu dipengaruhi oleh dualisme Persia dan spekulasi yang jahat. Para rabi bukanlah sumber yang baik bagi kebenaran di area ini. Yesus secara radikal menyimpang dari ajaran Sinagog di area ini. Konsep musuh archangelic YHWH dikembangkan dari dua dewa yang tinggi dualisme Persia, Ahkiman dan Ormaza, dan kemudian dikembangkan oleh para rabi menjadi dualisme Alkitab YHWH dan Setan.[20]
Perkembangan mengejutkan terjadi pada masa inter-testamental[21]. Pada periode intertestamental ini, ular di Kejadian 3 diidentifikasi sebagai setan, dan bahkan kemudian hal ini menjadi pilihan para rabbi. "Anak-anak Allah" dalam Kejadian 6 menjadi malaikat dalam I Henokh 54:6.[22] Dan uniknya, Kejadian 6:1-2 sangatlah mirip dengan 1 Henokh 6:1-2.[23]
III.             Kesimpulan
Iblis merupakan sosok yang tak asing bagi kita meskipun alkitab tidak menceritakan asal usulnya. Iblis merupakan sosok yang antagonis dalam alkitab dimana ia selalu menghasut manusia agar melawan kehendak Allah. Kita sebagai orang Kristen haruslah tetap membentengi diri kita dengan iman kita agar kita tidak mudah terpengaruh kuasa si jahat, karena satu hal yang juga perlu kita sadari bahwa tidak kuasa yang lebih hebat selain didalam nama Yesus.
IV.             Daftar Pustaka
Barton, John & Muddiman, John., The Oxford Bible Commentary, (Oxford University Press : U.K, 2007), 553
Browning,W.R.F., Kamus Alkitab, Jakarta : BPK-GM, 2012
Buck, Charles, Charles Buck Theological Dictionary,Nabu Publisher, 2011
DYK-02-Nama Lucifer-PDF
Edersheim,Alfred., The Life and Times of Jesus the Messiah Vol II, Grand Rapids, MI: Christian Classics Ethereal Library, 1953
Ellen Guiley, Rosemary., The Encyclopedia Of Demons and Demonology, New York : Visionary Living, 2009
Fleming, Don., Bridgeway Bible Dictionary, Bridgeway Publications : Brisbane, Australia, 2004
http://wesley.nnu.edu/index.php?id=2126
L. Alden, Robert., Lucifer, Who or What? – (Bulletin of the Evangelical Theological Society 11, 1968) 35-39
Prophet, Elizabeth Clare., Fallen Angels And Origin of Evil, (Summit University Press : USA, 2000)5
Unger, Merill F. & Whilliam White, Jr, Vines Expository Dictionary of the Old Testament (Thomas Nelson Publisher : Nashville, 1949)1356
Utley, Bob, Isaiah A Commentary, Bible Lessons International: Marshall, Texas USA 2010
Van Der Toorn, Karel, Bob Becking, & Pieter W. Van Der Horst, Dictionary Of Deities and Demonology In The Bible, William B. Eerdsman Publishing Company Grand Rapids : Cambridge, U.K, 1999



[1] Acuan tersebut adalah yang pertama, menyesatkan (to stray), memberontak (to revolt), membuat tak adil (to be unjust), membakar (to burn), menggoda (to seduce). (Dictionary Of Deities and Demonology In The Bible, 1999, hlm 765)
[2] Karel Van Der Toorn, Bob Becking, & Pieter W. Van Der Horst, Dictionary Of Deities and Demonology In The Bible, (William B. Eerdsman Publishing Company Grand Rapids : Cambridge, U.K, 1999)765-769
[3] Merill F. Unger & Whilliam White, Jr, Vines Expository Dictionary of the Old Testament (Thomas Nelson Publisher : Nashville, 1949)1356
[4]  Bob Utley, Isaiah A Commentary, (Bible Lessons International: Marshall, Texas USA 2010)147
[5] Don Fleming, Bridgeway Bible Dictionary, (Bridgeway Publications : Brisbane, Australia, 2004)420
[6]  Charles Buck, Charles Buck Theological Dictionary,(Nabu Publisher, 2011)711
[7] Robert L. Alden, Lucifer, Who or What? – (Bulletin of the Evangelical Theological Society 11, 1968) 35-39
[8] Venus termasuk dalam kategori inferior planet, artinya karena garis orbitnya terletak antara bumi dan matahari, maka Venus tidak dapat muncul di langit pada malam hari jika dilihat dari timur. Venus hanya dapat dilihat di sebelah timur pada pagi hari atau sebelum matahari terbit atau di sebelah barat pada saat matahari terbenam selama sekitar 1 jam. Venus adalah benda ruang angkasa paling terang setelah matahari dan bulan.
[9] Beberapa penafsir itu diantaranya,  Origenes,  Agustinus, Tertullianus dan beberapa penafsir di zaman modern seperti Adam Clarke’s Commentary, Wycliffe Commentary, John Trapp’s Commentary.
[10] Rosemary Ellen Guiley, The Encyclopedia Of Demons and Demonology, (New York : Visionary Living, 2009)154
[11] W.R.F Browning, Kamus Alkitab, (Jakarta : BPK-GM, 2012)244
[12] Kitab Henokh adalah judul yang diberikan kepada sejumlah karya yang dianggap ditulis oleh Henokh, kakek buyut Nuh; artinya,Nabi Henokh/Nabi Idris, Henokh anak Yared (Kejadian 5:18). Ada juga tiga orang lain dalam Alkitab yang bernama Henokh: anak Kain (Kejadian 4:17), anak Midian (Kejadian 25:4), dan anak Ruben (Kejadian 46:9; Keluaran 6:14). Yang paling umum, ungkapan Kitab Henokh merujuk kepada 1 Henokh, yang sejauh kita ketahui bertahan utuh hanya dalam bahasa Ethiopia. Ada lagi dua kitab lain yang dinamai Henokh, yaitu 2 Henokh (yang bertahan hanya dalam bahasa Slavia Kuno, sekitar abad pertama; terj. bahasa Inggris oleh R. H. Charles (1896)  dan 3 Henokh (yang bertahan dalam bahasa Ibrani, sekitar abad ke-5 – abad ke-6. Meskipun banyak pakar menganggap Kitab 1 Henokh sebagai pseudoepigraf, berbagai kelompok, termasuk Gereja Ortodoks Ethiopia dan kaum Esene, menganggap sebagian atau seluruh bagian dari 1 Henokh sebagai Kitab Suci yang diilhamkan. Teks-teks yang dikenal sekarang dari karya ini biasanya diperkirakan berasal dari masa Makabe (sekitar 160-an SM).
[13] Elizabeth Clare Prophet, Fallen Angels And Origin of Evil, (Summit University Press : USA, 2000)5
[14] DYK-02-Nama Lucifer-PDF
[15] Metode ini dimulai dari penyatuan antara agama dan filsafat Yunani. Dengan munculnya filsafat, orang Yunani mulai menyadari bahwa mereka tidak mungkin menafsirkan tulisan-tulisan agama mereka secara harfiah dan tetap berpegang pada filsafat mereka. Jika kedua-duanya diambil secara harfiah, maka keduanya akan bertentangan. Karena kesetiaan baru mereka kepada filsafat, maka untuk membuat agar agama dan filsafat mereka tidak berbenturan mereka harus menyimpulkan bahwa tulisan-tulisan keagamaan mempunyai arti agak lain daripada arti harafiahnya. Metode ini beranggapan bahwa di balik arti yang jelas dan nyata dari kitab suci terdapat artinya yang sebenarnya.
[16] Bob Utley, Isaiah A Commentary, 153
[17] Ittoba’al secara harafiah juga berarti manusia ba’al.
[18] John Barton & John Muddiman, The Oxford Bible Commentary, (Oxford University Press : U.K, 2007), 553
[19] DYK-02-Nama Lucifer-PDF
[20] Alfred Edersheim, The Life and Times of Jesus the Messiah Vol II, (Grand Rapids, MI: Christian Classics Ethereal Library, 1953)770
[21] Apa yang terjadi dalam 400 tabun di antara penulisan kitab Maleakhi dan saat kelahiran Yesus tidak selalu jelas. Ini lah yang disebut dengan "Periode Intertestamental" oleh sebab inilah jangka waktu di antara penulisan Perjanjian Lama dan Baru. Kita tahu bahwa bangsa Israel yang telah dipulihkan itu mengalami berbagai gangguan politik yang serius sementara waktu ini. Setelah Aleksander Agung menaklukkan Imperium Persia, para pangeran dan jenderal Yunani berjuang untuk merebut hak untuk memerintah Timur Dekat. Raja Antiokhus III dari wangsa Seleukus merebut Palestina.dari Mesir pada tahun 198 sM dan berusaha menjadikannya sebuah pangkalan untuk membangun suatu imperium baru di Timur. Akan tetapi, Antiokhus III bukanlah tandingan bagi legiun-legiun Roma. Mereka mengalahkan bala tentaranya pada tahun 190 sM dan menjadikannya penguasa boneka dalam rangkaian pemimpin Roma.
[22] Bob Utley, Isaiah A Commentary, 147
[23] http://wesley.nnu.edu/index.php?id=2126

Dosa & Penyakit

I.                   Pembahasan
1.1.     Dosa
1.1.1.      Pengertian Dosa
Menurut Kamus Alkitab, dalam Perjanjian Lama, dosa adalah apa yang tidak dapat diterima (bagi Allah, atau umat manusia); tidak harus berupa ketidak-taatan kepada Allah atau pemberontakan terhadap-Nya (I Raj. 8:50); dan tidak dapat disamakan dengan perbuatan kriminal yang berupa pelanggaran terhadap masyarakat.[1]
Menurut buku Pedoman Dogmatika, Dosa berasal dari beberapa bahasa Ibrani, yaitu:
Ø Pertama, jika kita melihat dalam Kej. 4:7, maka kata benda Ibrani חטאה –(khatâ'âh), atau  חטאת (khatâ't), berasal dari kata kerja חטא – (khâtâ), “berbuat dosa” dan secara konseptual bermakna “meleset dari sasaran atau jalan yang benar” atau dosa mengacu kepada arti bahwa manusia menyimpang dari tujuan dan maksud Allah. Hal ini mengandung makna bahwa dosa itu bukan saja dilakukan melalui perkataan dan perbuatan tetapi juga dalam sikap hati dan pikiran yang berdosa. Manusia menyimpang dari jalan yang benar.
Ø Kedua, חטא (khet), merupakan istilah yang seasal dengan khattat. Istilah ini diantaranya terdapat dalam kitab Maz. 51:11 yang berbunyi, “sembunyikanlah wajah-Mu terdahap dosa (khet) ku, hapuskanlah segala kesalahanku!”
Ø Ketiga, פשע (pesya), berdasarkan Ams. 10:19 dosa kata Ibrani פשע (pesya), berasal dari kata kerja פשע (pâsya), “memberontak”, “melanggar”. Kata ini mempunyai arti tindakan “memberontak”, “melawan”, “menentang”. Dapat disimpulkan bahwa hal ini menyangkut tentang pemberontakan atau pelanggaran terhadap kehendak dan perintah Allah. Istilah ini di antaranya dapat ditemui di dalam kitab Kej. 31:36; Ams. 28:13; Hos. 8:1. Dalam Kej. 31:36 tertulis, “Lalu hati Yakub panas dan ia bertengkar dengan Laban. Ia berkata kepada Laban: “Apakah kesalahanku (pesya) apakah dosaku, maka engkau memburu aku sehebat itu?”[2]
Menurut website www.google_TeologiaPerjanjianLama.com, dosa juga berasal dari beberapa bahasa Ibrani, yaitu:
Ø Pertama, שגג (syagag), kata ini berarti dosa yang tidak disengaja, karena tidak hati-hati, karena tidak sabar dan tanpa diketahui. Contoh penggunaannya adalah dalam kitab Im. 4:13.
Ø Kedua, kata Ibrani  אשם - '(âsyâm), yang berasal dari kata kerja dengan akar kata yang sama, “bersalah”. Kata ini sering dihubungkan dengan “korban” misalnya korban penghapus “salah”. Kata (asyam) dalam bahasa Ibrani ini juga berarti dosa, pelanggaran, salah. Hal ini dapat kita lihat dalam Im. 4:3, kata Asyam dalam terjemahan LAI adalah bersalah dan KJV (sin=dosa).
Ø Ketiga, berdasarkan I Raj. 17:18 kata Ibrani עון - '(âvõn), berasal dari kata kerja עוה – ('âvâh), yang memiliki arti “melakukan kesalahan”, “bersalah”, secara konseptual bermakna “membengkokkan yang lurus”. Kata ini lebih banyak diterjemahkan dalam arti “kesalahan” terhadap manusia ketimbang “dosa” terhadap Allah.
Ø Keempat,  רשע (râsyâ)', yang memiliki arti “tidak mengindahkan perintah Tuhan (fasik) atau berbuat maksiat” (Kej. 18:23).[3] 
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dosa merupakan perbuatan yang melanggar hukum Tuhan atau agama, perbuatan salah dan asal kata dosa ini adalah berasal dari Adam dan Hawa.[4] Menurut Kamus Teologi, Dosa atau sin (Inggris) juga mempunyai arti pelanggaran terhadap hukum Allah, dosa melawan Roh Kudus, dan pada dasarnya dosa ini layak untuk dihukum mati.[5] Menurut Ensiklopedi Umum, Dosa yang dalam bahasa Belanda, “Zonde”, dikenal dalam keagamaan perbuatan asusila, melawan Tuhan. Orang Yahudi mengenal dosa pribadi dan dosa yang meliputi seluruh bangsa (misalnya memuja berhala). Ada juga pengertian dosa asal (menurut ajaran Kristen keburukan yang ada dalam setiap manusia sejak jatuhnya Adam, yang dapat dihapuskan dengan pemandian).[6]
Jadi dari pemaparan di atas maka dapat disimpulkan bahwa pengertian dosa adalah segala perbuatan yang tidak dapat diterima oleh Allah baik juga bagi manusia, di mana dosa merupakan segala perbuatan yang telah melanggar hukum Tuhan atau agama.
1.1.2.      Konsep Dosa Menurut Perjanjian Lama
Menurut buku Teologi Dasar, ada beberapa yang menjadi konsep dosa dalam Perjanjian Lama, yaitu:[7]
1.    Khata
Kata dasar ini muncul sekitar 522 kali dalam Perjanjian Lama. Arti utamanya adalah tidak mengenai sasaran, dan sepadan dengan kata Yunani, “hamartano”. Namun arti tidak mengenai sasaran juga mencakup pencapaian sasaran tertentu yang lain; maksudnya apabila seseorang tidak mencapai sasaran yang tepat lalu berdosa, maka dia juga mengenai sasaran yang keliru. Kata tersebut digunakan untuk menjelaskan dosa kejahatan moral, penyembahan berhala, dan yang berhubungan dengan upacara (Kel. 20:20; Hak. 20:16; Ams. 8:36; 19:2).
2.    Ra
Kata ini digunakan sekitar 444 kali dalam Perjanjian Lama, dan sepadan dengan kata Yunani “kakos” dan “poneros”, yang arti utamanya ialah menghentikan atau menghancurkan. Kata ini seringkali diartikan sebagai malapetaka atau bencana besar, dan banyak diterjemahkan dengan kata “jahat”. Kata ini bisa juga menyatakan sesuatu yang berbahaya maupun sesuatu yang salah secara moral (Kej. 3:5; 38:7; Hak. 11:27).
3.    Pasha
Arti utama dari kata ini adalah memberontak, meskipun biasanya juga diterjemahkan sebagai “pelanggaran” (I Raj. 12:19; II Raj. 3:5; Ams. 28:21; Yes. 1:2).
4.    Awon
Kata ini mencakup pengertian perbuatan salah maupun rasa bersalah, yang dalam pemikiran Ibrani sangat bertautan (I Sam. 3:13), dan dengan dosa yang bersifat menantang (Bil. 15:30-31).

5.    Shagag
Kata ini berarti melakukan kesalahan atau menyimpang seperti yang mungkin dilakukan seekor domba atau seorang pemabuk (Yes. 28:7). Kata ini menunjuk kepada kesalahan yan diperbuat seseorang yang merasa bertanggung jawab. Dalam kaitan Taurat, orang yang menyimpang atau tersesat bertanggung jawab karena tahu apa yang telah diperintahkan oleh Taurat (15:22).
6.    Asham
Hampir semua penggunaan kata ini berkenaan dengan upacara keagamaan yang dilakukan di tabernakel maupun di bait suci seperti yang tertulis dalam kitab Imamat, Bilangan, dan Yehezkiel. Rasa bersalah di hadapan Tuhan adalah maksud utamanya. Hal tersebut menunjukkan rasa bersalah dan dosa yang berhubungan dengan korban persembahan, dan karena itu mencakup masalah yang dilakukan secara sengaja (Im. 4:13; 5:2-3).
7.    Rasha
            Kata ini jarang digunakan sebelum masa pembuangan, dan sering terdapat dalam kitab Mazmur, Yehezkiel, dan kitab Amsal. Artinya adalah kejahatan, lawan dari kebenaran (Kel. 2:13; Mzm. 9:17; Ams. 15:9; Yeh. 18:23).
8.    Taah
Arti kata ini yaitu menyimpang, tersesat; dosa dilakukan secara sengaja, bukan kebetulan, walaupun si pelaku mungkin tidak menyadari ruang lingkup dosanya (Bil. 15:22; Mzm. 58:4; 119:21; Yes. 53:6; Yeh. 44: 10,15).
Dari penyelidikan kata di atas bahwa kita dapat menarik kesimpulan tentang dosa yang diajarkan dalam Perjanjian Lama, yaitu:
1.    Dosa bisa berupa banyak bentuk, dan karena penggunaan kata yang beraneka ragam itu, maka seorang Israel dapat menyadari perbuatan dosa khusus yang dilakukannya.
2.    Dosa adalah hal yang bertentangan dengan norma, dan pada dasarnya dosa itu merupakan ketidak-taatan kepada Allah.
3.    Karena ketidak-taatan mencakup pemikiran positif maupun negatif, maka dosa merupakan perbuatan aktif terhadap apa yang salah dan bukan hanya sebagai tindakan peniadaan secara pasif terhadap hal-hal yang benar. Dosa bukan saja merupakan perbuatan yang tidak mencapai sasaran, melainkan juga sebagai tindakan mencapai sasaran lain yang keliru.

1.1.3.      Dosa Menurut Pandangan Teologi Perjanjian Lama
Menurut buku Iman Kristen, dalam Teologi Perjanjian Lama, maka Allah bukanlah penyebab dosa karena dalam kitab Perjanjian Lama telah memberitakan kepada kita bahwa jauhlah dari pada Allah untuk melakukan kefasikan, dan dari pada yang Maha Kuasa untuk berbuat curang (Ayb. 34:10 bnd. Mzm. 73:23; 119:68), sebab Tuhan Allah tidak pernah bersikap curang, memihak atau menerima suap (II Taw. 19:7; Kel. 23:6-8). Jika diperbandingkan dengan Kej. 1:31, Allah tidak mengkehendaki dosa sebab segala sesuatu yang dijadikan “amat baik”. Jika kita melihat ke dalam Kej. 3:1-7 maka manusia jatuh ke dalam dosa bukan karena paksaan Iblis.[8]
Menurut buku Pedoman Dogmatika, Dosa adalah ketidak-taatan manusia dalam hubungannya dengan Tuhan yang diungkapkan melalui pemberontakan dan pelanggaran manusia.[9]
Menurut Theological Dictionary, Dosa dimulai ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa. Kita Kejadian mengajarkan bahwa Allah menciptakan makhluk yang bernama “manusia” (Kej. 1:26-28). Manusia adalah ciptaan yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Salah satu makna dari “gambar dan rupa” Allah bahwa manusia itu diberikan “akal budi” – sesuatu yang membedakannya dari hewan, tumbuhan. Dengan akal budi itu, manusia mempunyai pikiran atau kehendak bebasnya. Penggunaan “kehendak bebas” inilah yang terekam dalam kisah di Taman Eden. Allah memberikan firman agar Adam dan Hawa tidak memakan buah dari “Pohon Pengetahuan tentang yang baik dan jahat”. Buah dari pohon-pohon lainnya boleh mereka makan. Hanya buah dari pohon itu saja yang tidak boleh dimakan, karena mereka bisa mengakibatkan “kematian” (Kej. 2:15-17). Tidak diceritakan berapa lama keduanya menghuni Taman Eden dan menikmati segala yang terindah. Sampai suatu hari, ular datang dan membujuk Hawa untuk memakan buah dari Pohon Pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat tersebut. Singkat ceita, keduanya lalu memakan buah dari pohon tersebut.[10]
Menurut Ensiklopedi Alkitab Praktis, maka kita di arahkan kepada Mzm. 32:1-2 yaitu dosa adalah keadaan yang menyebabkan manusia terpisah dari Allah karena pikiran, sikap, perkataan atau perbuatan yang salah.
Kesalahan-kesalahan itu adalah dosa dan keadaan orang yang berdosa berarti memalingkan arah kehidupan dari segala rancangan yang dikehendaki Allah. Oleh sebab itu, dosa berarti keadaan terpisah dari Allah.[11]
Menurut buku Teologia Perjanjian Lama I, manusia memang adalah orang yang berdosa namun Allah masih tetap memberkati karena Allah prihatin kepada manusia berdosa. Gambar Allah tetap menandai, bahkan diteruskan turun-temurun (Kej. 5:1-3). Hawa adalah “Ibu dari segala yang hidup” (dengan gelar yang digunakan untuk Ibu Pertiwi, maha ibunda dalam kebudayaan Kanaan) sekalipun keibuan disertai dengan penderitaan yang lahir batin. Ibu, yang ada pada awalnya menolak tanggung jawab atas dosanya, disertai tanggung jawab atas anak-anaknya dengan segala suka dan duka dan ia belajar memelihara mereka. Anak pertama Adam dan Hawa adalah Kain yang artinya “kuperoleh laki-laki” dengan bantuan Tuhan dan dialah yang telah membunuh adiknya dan serta menyebabkan susah hati pada ibu dan bapanya. Sekalipun manusia diusir dari kebun yang nikmat, Allah tetap memberkati mereka dengan pakaian yang tepat untuk dunia yang keras itu. Setiap dosa dan pelanggaran manusia senantiasa disertai dengan berkat yang terselubung.[12]
Meskipun tampak berkat Allah kepada Adam dan Hawa namun hubungan manusia juga sangat kritis dengan Allah. Allah sakit hati kepada manusia karena segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan. Sebagaimana kelak ia juga akan mengalami kesusahan yang sama oleh Israel. Hati Allah pilu (Kej. 6:6c bdn. Yes. 63:10, pemberontakan mendukakan hati Roh Kudus dan Mzm. 78:40, pemberontakan di gurun menyakiti Allah). Pada sisi lain, Allah menderita karena ciptaan-Nya dirusak. Pada pihak lain, Ia menyesal telah menciptakan semua itu. Sebagaiman tukang priuk memusnahkan hasil yang tidak sempurna (Yer. 18:1-12) demi ciptaan-Nya karena yang salah bukanlah Khalik melainkan manusialah yang telah merusak karya-Nya yang “amat baik” (Kej. 1:31). Allah merencanakan Air Bah dan yang selamat dari semua itu adalah Nuh dan keluarganya dan sepasang binatang lainnya. Sekalipun Allah tahu bahwa hati manusia jahat dari sejak kecilnya (Kej. 8:21), namun Ia berjanji, “Selama bumi masih ada, takkan berhenti-berhentinya menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.” (Kej. 8:22).[13]
Dari  pemaparan di atas maka yang dapat disimpulkan tentang dosa menurut pandangan Teologi Perjanjian Lama, ialah bahwa maka Allah bukanlah penyebab dosa karena dalam kitab Perjanjian Lama. Dan oleh karena dosa juga keadaan yang menyebabkan manusia terpisah dari Allah karena pikiran, sikap, perkataan atau perbuatan yang salah. Di mana di dalam diri manusia memiliki kuasa dosa, dan oleh karena itu manusia akan terus melakukan dosa jika manusia tersebut tidak bisa menguasai kuasa dosa yang telah lebih besar menguasai dalam dirinya.
1.1.4.      Dosa Dalam Berbagai Defenisi
Menurut buku Systematic Theology, dosa dapat didefenisikan secara tepat dengan menggunakan kata-kata yang dikemukakan di atas. Sesungguhnya dapatlah kita defenisikan bahwa dosa adalah tidak mencapai sasaran, kebejatan, pemberontakan, kesalahan, memilih jalan yang tidak benar, kejahatan, penyimpangan terhadap hokum, pelanggaran, kebodohan, dan kesengajaan meninggalkan jalan yang benar.
Secara lebih ringkas dosa biasanya sebagai pelanggaran terhadap hukum (I Yoh. 3:4). Defenisi ini tepat sejauh menyangkut hukum dalam arti yang sangat luas, yaitu pelanggaran terhadap standar-standar yang telah ditetapkan Allah. Strong memberikan sebuah contoh pada saat dia mendefenisikan dosa sebagai “ketidak-sesuaian terhadap hukum moral Allah, baik dalam perbuatan, watak/sifat, ataupun keadaan.”[14]
Menurut buku A Sistematic Theology, dosa dapat pula didefenisikan sebagai berlawanan denga atau menentang karakter Allah (Rom. 3:23 –di mana kemuliaan Allah merupakan refleksi dari karakter/sifat-Nya). Busell mendefenisikan dosa sebagai berikut: “Dosa dapat didefenisikan sebagai apa saja di dalam diri ciptaan yang tidak menyatakan, atau yang bertentangan dengan, sifat kudus Sang Pencipta”[15]
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sifat utama dosa adalah terletak pada arahnya yang bertentangan dengan Allah. (Hal ini bisa juga dinyatakan dalam hubungannya dengan Hukum Allah). Setiap defenisi yang tidak menyatakan hal ini tidaklah Alkitabiah. Kelompok yang menyatakan bahwa dosa sebagai pertentangan terhadap diri sendiri, terhadap sesama, atau terhadap Allah, gagal menekankan kebenaran bahwa semua dosa pada dasarnya adalah bertentangan dengan Allah (Mzm. 51:6; Rom. 8:7).
Kiranya penjelasan kata dan defenisi tentang dosa di atas tidak membuat kita lupa betapa mengerikannya dosa dalam pandangan Allah yang kudus. Secara ringkas Habakuk berkata: “Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman” (Hab. 1:13). Dosa begitu merusak atau menghancurkannya, sehingga kematian Anak Allah saja yang dapat menghapuskannya (Yoh. 1:29).
1.2.     Penyakit
1.2.1.      Pengertian Penyakit
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), penyakit adalah sesuatu yang menyebabkan terjadinya gangguan pada makhluk hidup; gangguan kesehatan yang disebabkan oleh bakteri, virus atau kelainan system faal atau jaringan pada organ tubuh (pada makhluk hidup).[16] Sedangkan menurut buku Manusia dan Budaya, penyakit adalah penyebab seorang mengalami sakit, menurut Perjanjian Lama, sakit adalah keadaan seseorang yang mengalami sesuatu yang buruk dalam tubuhnya. Mungkin ia sakit karena tertular atau memang karena keadaan fisiknya yang kurang seimbang.[17]
Menurut Tesis (Konseling Pastoral kepada ibu-ibu yang mengalami penyakit menahun), dalam Perjanjian Lama, penyakit diterjemahkan חלי (kholiy) kata ini mengandung kata penyakit, kesakitan. Dalam Ul. 7:15 maka dikatakan Tuhan akan menjauhkan segala penyakit (kholiy) dari padamu, juga dalam Ul. 28:61 disebut berbagai penyakit (kholiy) dan pukulan yang tidak tertulis dalam kitab Taurat. Dalam kitab Yesaya maka kita juga menemukan kata kholiy diterjemahkan dengan kata kesakitan ‘biasa menderita kesakitan’, dalam Yes. 53:3 berarti “biasa menderita penyakit”, sedangkan dalam Yes. 53:4 “penyakit kita telah ditanggungnya”, ini berarti Tuhan mengetahui penyakit yang kita derita. Istilah selanjunya untuk penyakit adalah מכאב (mak’ob), ini menunjukkan kesengsaraan yang ditumbulkan oleh penyakit yang menyebabkan orang menderita. Kemudian penyakit juga diistilahkan dengan kata עמל (amal) yang berarti memikul (Yes. 53:11), (memikul tetapi dalam bentuk penyakit kita yang dipikul).[18]
Jadi dari pemaparan di atas tentang penyakit adalah bahwa penyakit adalah sesuatu yang menyebabkan terjadinya gangguan pada makhluk hidup; gangguan kesehatan yang pada umumnya penyakit tersebut menyerang makhluk hidup, namun khususnya manusia dalam berbagai situasi dan kondisi yang juga menyebabkan manusia yang terkena penyakit tersebut merasa kesakitan, dan terlebih merasa menderita oleh karena penyakit yang dialami.
1.2.2.      Sumber Penyakit
Menurut Tesis (Konseling Pastoral kepada ibu-ibu yang mengalami penyakit menahun), ada beberapa yang menjadi sumber penyakit pada umumnya, yaitu:
1.    Karena dosa (Mzm. 32:3-5, 38:1-9, 18-19: 41:4-5: 107:17-18: Yes. 1:4-6), ini pertama karena kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa yang menyebabkan munculnya penyakit.
2.    Kutuk, ketika manusia jatuh ke dalam dosa maka yang ia peroleh adalah kutuk (penyakit, penderitaan) karena Tuhan bermitra dengan Iblis dan melanggar perintah Allah. Dalam Ul. 28:27-28, Tuhan menghukum manusia karena dosa-dosanya (Bnd. Ul. 28: 60-61), Ibr. 2:14, Rom. 3:23).
3.    Iblis, ada hubungan dosa dengan iblis di mana ada dosa maka di situ ada iblis atau sebaliknya iblislah yang telah menggoda manusia sehingga ia jatuh ke dalam dosa dan menghasilkan penyakit (Kej. 3).[19]
Menurut buku Bakteriologi Medik, maka ada juga yang menjadi sumber penyakit, yaitu mikroba, mikroba adalah suatu makhluk kecil yang sangat halus dan hidup di alam bebas, berkembang biak mengandalkan kolonisasi pada permukaan tubuh seperti kulit, kuku, rongga hidung, rongga telinga luar, mulut, tenggorokan, serta saluran serna rektun dan kolon.[20]
Menurut buku Pedoman Pelayanan terhadap Orang Sakit, maka ada di sini juga dijelaskan yang menjadi beberapa sumber dari pada penyakit, yaitu:
1.    Virus, virus juga merupakan penyebab penyakit yang mematikan baik kepada manusia maupun kepada hewan.
2.    Penyakit keturunan (Kel. 20:35; Ul. 28:58-61).
3.    Lingkungan yang tercemar (Yer. 13:1-8; II Raj. 8:28-29; Luk. 21:10-11; Yes.. 24:1-17).
4.    Tidak hati-hati menjaga diri (II Raj. 1:2).
5.    Kejahatan orang berdosa yang disekitarnya (Kel. 21:18-19; Yer. 4:14, 8:18, 21; 10:17-20; 17:14).
6.    Kebodohan hamba Tuhan atau gembala (Yeh. 34:1-10; Zak. 11:15).
7.    Diizinkan Tuhan secara khusus (II Raj. 13:14-21; Ayub 2:7-9).
8.    Bukan karena dosa melainkan karena pengalaman rohani yang dahsyat dengan Tuhan (Dan. 8:1-27).
9.    Kejahatan orang tua dan nenek moyang (II Raj. 5:20-27; Yes. 1:4-6).[21]
Dari pemaparan tersebut, maka dapat kita simpulkan bahwa tidak semua akibat dosa dari manusia.
1.2.3.      Penyakit dalam Teologi Perjanjian Lama
Menurut Ensiklopedi Alkitab Praktis, khususnya dalam Perjanjian Lama, kita mengenal mengenai istilah penyakit sampar, penyakit ini sangat dahsyat dan dan menular, baik kepada ternak (Kel. 9:3) dan kepada manusia (Mzm. 91:3) dan tulah yang juga dapat kita lihat dalam Kel. 7-11. Penyakit lainnya juga adalah penyakit kusta yang dianggap najis bagi mereka yang menghampirinya. Mula-mula kulitnya timbul luka, atau kudis yang berwarna putih kemudian bagian tubuh jari tangan, jari kaki, hidung, telinga tidak berperasaan lagi (mati rasa) sehingga akhirnya luka bahkan putus. Penyakit kusta adalah penyakit yang sukar sembuh dan sifatnya menahun (Ul. 28:27, 35). Namun, tidak semua orang kusta disebut dalam Alkitab terkena penyakit yang sungguh dahsyat, misalnya Namaan yang masih dapat tinggal bersama dengan keluarganya (II Raj. 5).[22]
Menurut Tesis (Konseling Pastoral kepada ibu-ibu yang mengalami penyakit menahun), selain penyakit tersebut, ada juga penyakit barah, di mana ia memecah seperti gelembung yang mengenai ternak dan manusia, penyakit ini terjadi ketika Firaun tidak mengijinkan bangsa Isreal dari Mesir.[23]
Menurut Kamus Alkitab, penyakit pada zaman Alkitab dan cara penyembuhannya merupakan hal yang sangat penting, dan kadang-kadang penyakit dianggap berasal dari Allah sebagai hukuman atau dosa seperti ketika penyakit sampar menerpa seluruh bangsa karena kelancangan Daud ketika melakukan sensus  penduduk (II Sam. 24). Namun pandangan yang demikian tentang Allah dimodifikasi (ditransformasi) dalam kitab Tawarikh (I Taw. 21:1 bnd. II Sam. 24:1), yang menganggap seluruh episode tersebut disebabkan oleh setan.[24]
Jadi dari pemaparan di atas tentang beberapa penyakit dalam Perjanjian Lama ialah bahwa dalam Perjanjian Lama pun sudah banyak berbagai jenis penyakit yang telah menyerang manusia, dan itu hanyalah beberapa kisah dari Perjanjian Lama yang mencatatkan berbagai jenis penyakit yang telah menyerang manusia.
1.3.     Hubungan Dosa dan Penyakit
Menurut Tesis (Konseling Pastoral kepada ibu-ibu yang mengalami penyakit menahun), ketika manusia yaitu Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa maka penyakit, kesusahan dan kematian memasuki kehidupan semua manusia (Kej. 3:16-19). Penyebab dosa dan penyakit adalah Iblis (Ayb. 1-2). Dan jika kita melirik ke dalam Yes. 53:4; 53:11 ada kata נשא (nasa) maka penyakit berhubungan dengan kata nasa ini dipakai untuk menanggung dosa dan penyakit. Arti kata nasa adalah mengangkut, mengangkat atau memindahkan jauh-jauh. Jika kita melihat nasa maka Imamat menggunakannya dalam Im. 16, ketika memberikan kambing jantan untuk pendiaman yang mengangkut segala kesalahan/dosa dan penyakit bangsa Israel ke tanah yang tandus, dan kambing itu harus dilepaskan di padang gurun (Im. 16:21-22).[25]
Penyakit sering dianggap sebagai hukuman Allah kepada orang-orang yang berdosa karena itu mereka harus disisihkan, hidup mereka kebanyakan didiskriminasi atau mereka dan keluarganya tersisihkan.[26]
Menurut buku Sehat, Kesehatan dan Penyembuhan, orang Ibrani selalu beranggapan bahwa penyakit diberikan Allah sebagai hukuman atas apa yang tidak disukai-Nya (Kel. 4:11; Bil. 25:18; Ul. 32:39; Yes. 38 dan Mzm. 38:3). Pemahaman inilah yang menyebabkan orang menyisihkan orang yang mempunyai penyakit beserta keluarganya dan biasanya mereka memahami kalau penyakit itu adalah akibat dari dosa pribadinya atau dosa keluarganya/dosa warisan. Hubungan langsung anatara dosa dan penyakit sangat sulit untuk dipecahkan. Namun bangsa-bangsa yang menuruti Allah diberi janji akan luput dari penyakit ( Kel. 15:25-26; Ul. 7:12-16). Penyakit juga adalah hukuman berat atas umat Allah (Yer. 24:10, 32: 24).[27]
Jadi dengan demikian dari pemaparan di atas maka dapat kita simpulkan bahwa penyakit merupakan bagian dari dosa yang tidak terlepaskan. Di mana orang-orang yang berada pada zaman Perjanjian Lama tersebut menganggap bahwa mereka telah berdosa, meskipun yang sebenarnya mereka belum tentu berdosa, tapi oleh karena pemahaman mereka tentang dosa warisan yang menyebabkan mereka berdosa sehingga mereka juga meyakini bahwa penyakit juga merupakan bagian dari dosa.
1.4.     Dosa dan Penyakit Berdasarkan Kitab Ayub
Menurut buku Ayub dalam Kasih Allah, Dosa  menurut Ayub adalah mengutuki Allah hal ini menyebabkan Ayub berpikir kalau anak-anaknya telah berdosa karena mengutuki Allah dalam hati karena itu ia mempersembahkan korban bakaran kepada Allah yang dilakukannya senantiasa (Ayb. 1:5).[28]
Menurut buku Introduction To The Old Testament, jika kita melihat kembali kisah Ayub maka menurut teman-temannya, ia mengalami penderitaan oleh penyakitnya, kehilangan anak-anaknya, harta bendanya adalah karena ia telah berdosa kepada Allah. Allah murka kepada Elifas orang Teman, dan dua sahabatnya dan memuji Ayub. Tuhan murka kepada sahabat Ayub karena mereka mengajarkan bahwa hanya orang benar yang diberkati, mendesak Ayub mengaku dosa, dan mereka tidak berkata benar tentang Allah.[29]
Menurut Ensiklopedi Alkitab, Ayub mengalami penderitaan bukan karena ia melakukan dosa atau melanggar perintah Allah, melakukan kesalahan terhadap Allah. Namun ia adalah orang saleh yang mengalami musibah hebat. Ia kehilangan semua anaknya dan segala harta bendanya, lalu dihinggapi penyakit kulit yang menjijikkan.[30] Dalam tiga rangkaian percakapan yang bersajak, si penulis menggambarkan bagaimana teman-teman Ayub, dan Ayub sendiri menanggapi malapetaka itu. Pokok yang penting dalam percakapan-percakapan itu ialah yang menyinggung caranya Allah memperlakukan manusia. Pada bagian terakhir, Allah sendiri menyatakan diri-Nya kepada Ayub. Jika kita melihat kitab Ayub ini maka penderitaan tidak selalu akibat dari dosa yang diperbuat melainkan karena Allah adalah orang yang tidak terselami.[31]
Menurut Alkitab, Penyakit yang diderita oleh Ayub sangatlah mengerikan, barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya (Ayb. 2:7) dan penyakit itu sangat menyiksa dirinya. Barah yang ia derita menimbulkan rasa gatal sehingga Ayub mengambil sekeping beling untuk menggaruk badannya (Ayb. 2:8). Penyakit itu juga membuat sahabat-sahabat Ayub tidak mengenali wajahnya (Ayb. 2:12) abu menutup tubuhnya (Ayb. 7:5). Barat badannya menurun (Ayb. 19:20). Tulangnya terasa nyeri (Ayb. 30:17), kulitnya hitam mengelupas (Ayb. 30:30). Keadaan fisik Ayub sangat tersiksa bahkan psikologinya juga tertekan karena istrinya menyuruhnya mengutuki Allah (Membuat dosa).[32]
Seperti yang telah saya singgung maka Ayub mengalami penderitaan karena ia dianggap telah berdosa kepada Allah sehingga ia mengalami kesengsaraan yang luar biasa karena menurut agama tradisional maka manusia akan mengalami kesengsaraan ketika ia melakukan pelanggaran. Apakah Allah menghendaki musibah yang menimpa Ayub? Apakah Allah melihat kalau setan menghampiri Ayub? Allah tahu segala sesuatunya. Jika kita melihat kembali kehidupan dunia ini maka manusia lebih cendrung seperti sahabat-sahabat Ayub yang senantiasa mencari penyebab penderitaan (Berupa penyakit). Mereka senantiasa mencari tahu penyebab penyakit dan penderitaan Ayub serta mencoba memecahkannya melalui logika mereka. Karena itu mereka mendatangkan peringatan keras dari Allah kepada mereka (Ayb. 42: 7). Beranjak dari kitab Ayub maka kita dapat melihat maka penyebab penyakit atau penderitaan yang dialami tidak selalu adalah akibat dari dosa yang menimpa manusia melainkan Allah bekerja dan senantiasa mendatangkan kasih karunia.[33]
Dalam buku Derita dan kutuk maka ada alasan mengapa penyakit senantiasa menimpa orang yang baik dan saleh sepeti tokoh Ayub, Harold mengatakan bahwa oleh dosa manusia, kehendak Allah dan hukuman Alam. Ada 4 ksah yang kita peroleh dari Ayub:
1.    Tuhan Allah adalah maha kuasa dan ia sumber segala sesuatu yamg terjadi di bumi.
2.    Tuhan itu adil dan benar. Setiap manusia akan mendapatkan seseuai dengan perbuatannya. Yang baik diberkati dan yang jahat dihukum.
3.    Ayub adalah orang yang baik.[34]
Dari pemaparan di atas maka dapat disimpulkan bahwa penderitaan tidak selalu berasal dari Tuhan.
1.5.     Refleksi Teologis
Dari pemaparan diatas maka dapat kita ambil sebagai bahan refleksi dalam kehiduan kita, bahwa tidak semua penderitaan (termasuk penyakit) itu adalah akibat dari dosa. Allah adalah orang yang tidak terselami dan orang setia. Mungkin saja ketika kita mendapatkan sebuah penyakit maka yang terlintas dalam pikiran kita adalah bahwa itu adalah akibat dari dosa kita, padahal mungkin saja Allah mengizinkan Iblis menguji iman kita. Kenyataan bahwa dalam pemahaman agama tradisional (agama Pemena) masih saja berpengaruh pada kita saat ini, di dalam suku penyaji misalnya (Karo) maka ketika seseorang mengalami sakit yang luar biasa dan sudah menahun tidak sembuh maka yang dipertanyakan adalah (apakah dosamu (inilah yang ditanyakan orang lain kepada penderita)/ apa dosaku sehingga penyakit ini menerpa keluargamu/ kami? (Yang ditanyakan oleh pribadi)) mungkin saja pertanyaan ini muncul bukan saja dikalangan Karo, Simalungun, Toba, Nias bahkan suku-suku lainnya. Karena pemikiran yang sedemikian yang seharusnya kita Transformasi dengan Injil yang menjadi dasar kita untuk dapat mengubah pemikiran mereka dalam pemahaman agama tradisional yang masih melekat dalam paradigma mereka. Dan oleh karena itu perlu kita ketahui sekalipun kita terkena penyakit, penderitaan, Ketentuan Allah tidak terselami oleh manusia (Trasenden), rancangan-Nya adalah damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan dan Ia akan memberikan hari depan yang penuh harapan (Yer. 29: 11). Ia memanggil dan menugasi manusia menjadi bentera-Nya, kendati penderitaan dan kelemahan yang terjadi bagi kita. Penugasan itu datangnya dari Allah yang penuh kasih karunia yang tidak memperalat manusia tetapi melibatkan manusia dalam rencana sorgawi yang tidak terlihat oleh manusia di dunia ini.
II.                Kesimpulan
Dari pemaparan di atas maka dapat disimpulkan bahwa dosa berasal dari tujuh bahasa Ibrani yaitu: חטאה –(khatâ'âh), "berbuat dosa,  חטא “(khet)” (dosa),  פשע “(pesya)”, "memberontak". שגג (syagag)” dosa yang “tidak disengaja”, אשם - '(âsyâm), "bersalah yang dihubungkan dengan korban". Kata עון - '(âvõn), "melakukan kesalahan", רשע (râsyâ) “fasik”,  sedangkan penyakit bahasa Ibraninya adalah חלי (kholiy) kata ini mengandung arti penyakit, kesakitan. Kata מכאב (Mak’ob), kesengsaraan yang ditimbulkan oleh penyakit, kata עמל (amal) yang berarti memikul (Yes. 53:11), (memikul tetapi dalam bentuk penyakit kita yang dipikul). dosa bermula ketika Adam dan Hawa memakan buah larangan Tuhan dan dosa itu menghasilkan penyakit dan penderitaan. Namun meskipun demikian Allah masih memberkati manusia meskipun ia menyesal menciptakan-Nya. Sekalipun penyakit bermula dari dosa namun tidak semua penyakit itu adalah akibat dosa, bahkan bisa saja penyakit muncul akibat kesetiaan kepada Allah layaknya tokoh Alkitab yang bernama Ayub.
III.             Daftar Pustaka
….. , Alkitab Bahasa Indonesia, Jakarta: LAI, 2007
….., Theological Dictionary, Amerika: New York Press, 1967
Atkinson, David, Ayub Dalam Kasih Allah, Jakarta: YKBK/OMF, 1974
Barth dan Marie-Claire Barth, Christoper, Teologi Perjanjian Lama I, Jakarta: BPK-GM, 2011
Becker, Dieter, Pedoman Dogmatika: Suatu Kompendium Singkat, Jakarta: BPK-GM, 1991
Browning, W.R.F., Kamus Alkitab, Jakarta: BPK-GM, 2009
Dzen, Sjokoer M., Bakteriologi Medik, Malang: Bayumedia Publishing, 2003
Hadiwijono, Harun, Iman Kristen, Jakarta: BPK-GM, 2012
Kushner, Harold S., Derita Kutuk dan Rahmat, terjemahan A. Supratiknya, Yogyakarta: Kanisius, 1991
Mc Elrath-Billy Mathias, W.N., Ensiklopedi Alkitab Praktis, Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 1990
Napel, Henk Ten, Kamus Teologi (Inggris, Indonesia), Jakarta: BPK-GM, 1999
Pfeiffer, Robert H., Introduction to the Old Testament, New York: Harper& brother Publisher, 1948
Poerwadarminta, W.J.S., Kamus Besar Bahasa Indonesia, Yogyakarta: Balai Pustaka, 1990
Pringgodigdo, A.G., Ensiklopedi Umum, Yogyakarta: Kanisius, 1967
Ryrie, Charles C., Teologi Dasar, Yogyakarta: Yayasan ANDI, 1991
Saragih, Jaksen, Tesis (Konseling Pastoral kepada ibu-ibu yang mengalami penyakit menahun), Medan: STT-Abdi Sabda, 2009
Sitompul, A.A., Manusia dan Budaya, Jakarta: BPK-GM, 1989
Stewart, Andy, A Sistematic Theology, Grand Rapids: Zondervan, 1962
Strong, Bussel, Systematic Theology, Philadelphia: Judson, 1907
Takaliung dan Susan Takaliung, Pondsius, Pedoman Pelayanan terhadap Orang Sakit, Malang: Gandum Mas, 1994
walls, A. F., sehat, kesehatan dan penyembuhan (ensiklopedi alkitab masa kini , jilid II), Jakarta: YKBK/OMF, 1995
IV.             Sumber Tambahan
www.google_TeologiaPerjanjianLama.com diakses pada 05 Agustus 2013




[1] W.R.F. Browning, Kamus Alkitab, (Jakarta: BPK-GM, 2009), 34
[2] Dieter  Becker, Pedoman Dogmatika: Suatu Kompendium Singkat, (Jakarta: BPK-GM, 1991), 101
[3] www.google_TeologiaPerjanjianLama.com diakses pada 05 Agustus 2013
[4] W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Yogyakarta: Balai Pustaka, 1990), 405
[5] Henk Ten Napel, Kamus Teologi (Inggris, Indonesia), (Jakarta: BPK-GM, 1999), 292
[6] A.G. Pringgodigdo, Ensiklopedi Umum, (Yogyakarta: Kanisius, 1967), 286
[7] Charles C. Ryrie, Teologi Dasar, (Yogyakarta: Yayasan ANDI, 1991), 281-283
[8] Harun Hadiwijono, Iman Kristen, (Jakarta: BPK-GM, 2012), 227-229
[9] Dieter Becker, Pedoman Dogmatika: Suatu Kompendium Singkat, 101
[10] ….., Theological Dictionary, (Amerika: New York Press, 1967), 799
[11] W.N. Mc Elrath-Billy Mathias, Ensiklopedi Alkitab Praktis, (Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 1990), 33
[12] Christoper Barth dan Marie-Claire Barth, Teologi Perjanjian Lama I, (Jakarta: BPK-GM, 2011), 47-48
[13] Christoper Barth dan Marie-Claire Barth, Teologi Perjanjian Lama I, 48-50
[14] Bussel Strong, Systematic Theology, (Philadelphia: Judson, 1907), 269
[15] Andy Stewart, A Sistematic Theology, (Grand Rapids: Zondervan, 1962), 264
[16] W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia,  567
[17] A.A. Sitompul, Manusia dan Budaya, (Jakarta: BPK-GM, 1989), 171
[18] Jaksen Saragih, Tesis (Konseling Pastoral kepada ibu-ibu yang mengalami penyakit menahun), (Medan: STT-Abdi Sabda, 2009), 90-91
[19] Jaksen Saragih, Tesis (Konseling Pastoral kepada ibu-ibu yang mengalami penyakit menahun), 91
[20] Sjokoer M. Dzen, Bakteriologi Medik, (Malang: Bayumedia Publishing, 2003), 3
[21] Pondsius Takaliung dan Susan Takaliung, Pedoman Pelayanan terhadap Orang Sakit, (Malang: Gandum Mas, 1994), 5-7
[22] W.N. Mc Elrath-Billy Mathias, Ensiklopedi Alkitab Praktis, 77 & 126
[23] Jaksen Saragih, Tesis (Konseling Pastoral kepada ibu-ibu yang mengalami penyakit menahun), 81
[24] W.R.F. Browning, Kamus Alkitab, 337
[25] Jaksen Saragih, Tesis (Konseling Pastoral kepada ibu-ibu yang mengalami penyakit menahun), 81-82
[26] Jaksen Saragih, Tesis (Konseling Pastoral kepada ibu-ibu yang mengalami penyakit menahun), 84
[27]A. F. walls, sehat, kesehatan dan penyembuhan (ensiklopedi alkitab masa kini , jilid II), (Jakarta: YKBK/OMF, 1995), 368
[28] David Atkinson, Ayub Dalam Kasih Allah, (Jakarta: YKBK/OMF, 1974), 21
[29] Robert H. Pfeiffer, Introduction to the Old Testament, (New York: Harper& brother Publisher, 1948), 661
[30] David Antikson, Ayub Dalam Kasih Allah, 28-29
[31] W.N. Mcelrath-Billy Mathias, Ensiklopedia Alkitab Praktis, 17
[32] ….. , Alkitab Bahasa Indonesia, (Jakarta: LAI, 2007), 541, 545, 556 & 565-566
[33] ….. , Alkitab Bahasa Indonesia, 566
[34] Harold S. Kushner, Derita Kutuk dan Rahmat, terjemahan A. Supratiknya, (Yogyakarta: Kanisius, 1991), 17-19